Rabu, 26 Mei 2010

RA.KARTINI

Raden Ajeng Kartini lahir dalam keluarga
bangsawan Jawa di Tanah Jawa saat masih
menjadi bagian dari koloni Belanda, Hindia
Belanda. Ayah Kartini, Raden Mas Sosroningrat,
menjadi Kepala Kabupaten Jepara, dan ibunya
adalah istri pertama Raden Mas ‘, poligami adalah
praktik umum di kalangan bangsawan.
Ayah Kartini, RMAA Sosroningrat, pada awalnya
kepala distrik Mayong. Ibunya MA Ngasirah, putri
dari Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di
Teluwakur, Jepara, dan Nyai Haji Siti Aminah.
Pada waktu itu, peraturan kolonial ditentukan
bahwa Kepala Kabupaten harus menikahi seorang
anggota bangsawan dan karena MA Ngasirah
bukanlah bangsawan yang cukup tinggi.
Biografi R.A Kartini, Ayahnya menikah lagi dengan
Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan
langsung dari Raja Madura. Setelah perkawinan
kedua ini, ayah Kartini diangkat untuk Kepala
Kabupaten Jepara, menggantikan ayahnya sendiri
istri keduanya, RAA Tjitrowikromo.
Ibu Kita Kartini dilahirkan dalam keluarga dengan
tradisi intelektual yang kuat. Kakeknya, Pangeran
Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam
usia 25 tahun sementara Kakak Kartini,
Sosrokartono adalah seorang ahli bahasa.
Keluarga Kartini mengizinkannya untuk
menghadiri sekolah sampai dia berumur 12
tahun, di antara mata pelajaran lain, ia fasih
berbahasa Belanda, suatu prestasi yang tidak
biasa bagi wanita Jawa pada waktu itu.
Setelah berusia 12 tahun ia harus berdiam diri di
rumah, aturan di kalangan bangsawan Jawa pada
masa tersebut, tradisi untuk mempersiapkan para
gadis-gadis di usia muda untuk pernikahan
mereka. Gadis pingitan yang tidak diizinkan untuk
meninggalkan rumah orangtua mereka sampai
mereka menikah, di mana titik otoritas atas
mereka dialihkan kepada suami mereka.
Ayah Kartini memberikan keringanan kepadanya
selama pengasingan putrinya, memberikan hak
istimewa seperti memberikan pelajaran
menyulam dan kadang-kadang tampil di depan
umum untuk acara khusus.
Selama pengasingan itu, Kartini terus mendidik
dirinya sendiri. Karena Kartini bisa berbahasa
Belanda, ia mendapatkan beberapa teman pena
Belanda. Salah satu dari mereka, seorang gadis
bernama Rosa Abendanon, menjadi temannya
sangat dekat. Buku, surat kabar dan majalah
Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir
perempuan Eropa, dan memupuk keinginan
untuk memperbaiki kondisi perempuan pribumi,
yang pada waktu itu memiliki status sosial yang
sangat rendah.
Kartini membaca surat kabar Semarang De
Locomotief, disunting oleh Pieter Brooshooft,
serta leestrommel, sebuah majalah yang
diedarkan oleh toko buku kepada para pelanggan.
Dia juga membaca majalah budaya dan ilmiah
serta majalah wanita Belanda De Hollandsche
Lelie, yang ia mulai mengirim kontribusi yang
diterbitkan. Dari surat-suratnya, jelas bahwa
Kartini membaca segala sesuatu dengan banyak
perhatian dan perhatian. Buku-buku yang telah
dibacanya sebelum ia berusia 20 tahun
dimasukkan oleh Max Havelaar dan Surat Cinta
oleh Multatuli. Dia juga membaca De Stille Kracht
(The Hidden Force) oleh Louis Couperus, karya-
karya Frederik van Eeden, Augusta de Witt,
penulis Romantis-feminis Mrs Goekoop de-Jong
Van Beek dan sebuah novel anti-perang oleh
Berta von Suttner, Waffen Nieder mati! (Lay
Down Your Arms!). Semua berada di Belanda.
Keprihatinan Kartini tidak hanya dalam bidang
emansipasi wanita, tetapi juga masalah-masalah
masyarakatnya. Kartini melihat bahwa
perjuangan bagi perempuan untuk memperoleh
kebebasan, otonomi dan persamaan hukum itu
hanya bagian dari gerakan yang lebih luas.
Orangtua Kartini diatur pernikahannya dengan
Raden Adipati Joyodiningrat, Kepala Kabupaten
Rembang, yang sudah memiliki tiga istri. Dia
menikah pada tanggal 12 November 1903. Ini
bertentangan dengan keinginan Kartini, tetapi dia
setuju untuk menenangkan ayahnya yang sakit.
Suaminya mengerti tujuan Kartini dan
memungkinkannya untuk mendirikan sekolah
wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks
Kantor Kabupaten Rembang.
Kartini melahirkan seorang anak hasil
pernikahannya dengan Raden Adipati
Joyodiningrat, Kepala Kabupaten Rembang pada
tanggal 13 September 1904. Beberapa hari
kemudian pada tanggal 17 September 1904,
Kartini meninggal pada usia 25. Dia dimakamkan
di Desa Bulu, Rembang.
Terinspirasi oleh contoh Kartini, keluarga Van
Deventer mendirikan Yayasan Kartini yang
membangun sekolah untuk perempuan, ‘Sekolah
Kartini’ di Semarang pada 1912, diikuti oleh
sekolah-sekolah perempuan lain di Surabaya,
Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah
lainnya.
Peringatan Hari Kartini pada tahun 1953
Pada tahun 1964, Presiden Sukarno menyatakan
tanggal kelahiran Kartini, 21 April, sebagai ‘Hari
Kartini’ – Hari Libur Nasional Indonesia. Keputusan
ini telah dikritik. Telah diusulkan bahwa Hari Kartini
harus dirayakan dalam hubungannya dengan
Hari ibu Indonesia, pada tanggal 22 Desember
sehingga pilihan Kartini sebagai pahlawan nasional
tidak akan menaungi wanita lain yang tidak seperti
Kartini, mengangkat senjata untuk melawan
penjajah.
Sebaliknya, orang-orang yang mengakui
pentingnya Kartini berpendapat bahwa tidak
hanya dia seorang feminis yang ditinggikan status
perempuan di Indonesia, dia juga seorang tokoh
nasionalis, dengan ide-ide baru yang berjuang
atas nama orang-orang, termasuk di tingkat
nasional perjuangan kemerdekaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar